Tampilkan postingan dengan label Tentang Bumi. Tampilkan semua postingan

Al-Qur’an dan Pengembangan Ilmu Pengetahuaan

Nhingz, BLOG--Bila cuaca cerah, malam ini kita akan melihat sebuah bintang sangat terang di ufuk Barat. Itulah bintang paling terang malam ini, Bintang Kejora yang sesungguhnya bukan bintang melainkan planet Venus. Walau sangat terang, kecerlangannya tidaklah abadi.  Menjelang isya cahayanya ditenggelamkan oleh cahaya bulan pasca purnama. Tidak lama ia di langit yang tinggi, hanya dalam beberapa jam bintang cemerlang itu benar-benar terbenam. Muncullah bulan pasca purnama dengan dengan wajah masih hampir bulat terang menguasai langit malam ini.  Tetapi rembulan pun tak kan abadi. Saat pagi Matahari muncul jauh lebih terang, cahayanya memucatkan rembulan di ufuk barat menjelang terbenam. Matahari pun tak kekal di langit, ada saatnya akan terbenam pula.

Bayangkan suasana seperti itu bukan di tengah kota, tetapi di tengah padang pasir. Bayangkan kita sedang bersama Nabiyullah Ibrahim ‘alaihi salam yang sedang merenungi makna tauhid, keesaan Allah, dengan akal langsung dari alam. Allah menceritakan kisah menarik itu di dalam QS Al-An’am: 76-79 
“….Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Banyak hikmah dapat kita petik dari kisah Nabi Ibrahim tersebut untuk merenungi ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat Allah di alam, untuk menemukan hakikat Allah dan mengambil pelajaran darinya. Ya, membaca ayat-ayat-Nya. Hal yang sama dalam format berbeda diajarkan juga oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW pada malam turunnya Al-Qur-an, Nuzulul Qur-an:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-Alaq:1 – 5).
”Bacalah” bukan sekadar bermakna membaca ayat-ayat Allah di kitab, tetapi membaca juga ayat-ayat Allah di alam semesta, ayat-ayat kauniyah. Membaca alam bermakna merenungi ciptaan Allah. Asal usulnya, prosesnya, hukum-hukum yang berlaku padanya, dan kesudahannya. Itulah menjadikan intelektualitas manusia berkembang. Kecendekiawanannya lebih bermakna.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (para cendekia), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Bila dijumpai sesuatu yang mengagumkan, ia mengembalikannya kepada Allah yang menciptakan): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau”. (Namun dengan menyadari keterbatan ilmu yang berpotensi salah dalam penjelajahan inetelektualnya sehingga senantiasa ia mohon ampunan Allah), “maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.
Pada ayat tersebut Allah mengajarkan kita semua untuk menjadi “ulil albab”, orang yang senantiasa menggunakan akalnya. Menjadi cendekiawan yang senantiasa membaca alam. Empat cirinya: berdzikir, berfikir, bertauhid, dan beristighfar. Senantiasa berdzikir (ingat) kepada Allah dalam segala situasi. Tak jemu berfikir tentang segala fenomena alam. Bertauhid mengesakan Allah yang menciptakan alam ini. Tak lupa beristighfar atas kemungkinan lalai dan salah dalam pemikirannya.


Membaca alam secara mendalam kemudian menganalisisnya, merumuskannya, dan mengujinya akan menghasilkan sains, ilmu pengetahuan. Al-Quran mendorong umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Ayat pembuka saat turunnya Al-Quran ”iqra, bacalah”, menjadi motivasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mestinya juga menjadi pendorong untuk melahirkan inovasi.
Ada tiga peran utama sains yang juga diajarkan Al-Qur-an. Pertama, peran sains menjawab keingintahuan manusia. Keingintahuan utama adalah asal-usul sesuatu dan mekanisme kejadian di alam. Beberapa hal diisyaratkan di dalam Al-Quran untuk renungan bagi manusia untuk memikirkannya. Kedua, peran sains melandasi pengembangan teknologi yang memudahkan manusia. Sepanjang sejarah manusia, teknologi dikembangkan untuk memudahkan aktivitas manusia. Perilaku alam yang dikaji sains banyak menginspirasi pengembangan teknologi. Beberapa ayat Al-Quran pun memberi tantangan untuk menguasai teknologi untuk mengungkap rahasia alam. Ketiga, menurut ajaran Islam sains juga berperan membantu mendekatkan diri kepada Allah.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Pertanyaan paling mendasar umat manusia adalah tentang asal-usul alam semesta dan segala isinya. Keingintahuan yang pokok inilah yang mendorong manusia mengkaji rahasia alam. Al-Quran merangkum asal-usul alam semesta itu dengan isyarat tentang ”enam hari penciptaan”. Sains yang dikembangkan dalam mengkaji fenomena alam kemudian kita balikkan untuk mencoba memahami isyarat ungkapan-ungkapan dalam Al-Quran
Alam diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. Fushshilat:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an. Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, berdasarkan kronologi saintifik tentang evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. Fushshilat:9-12 dan Q.S. An-Nazia’at:27-32) kita coba fahami enam masa itu sebagai enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia.
Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. Al-Anbiya:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 13,7 milyar tahun lalu.
Dan Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit (Q.S. Adz-Dzariyat:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi.
Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. Fushshilat:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut.
Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai
“Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (Q.S. An-Nazi’at:28)
Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. An-Nazi’at:29,
“Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.”
Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” pada Q.S. An-Nazi’at:30,
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”.
Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.
Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Anbiya:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.
Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.
Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. Fushshilat:10). Di dalam Q.S. An-Nazi’at:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan,
“Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang‑binatang ternakmu”.
Al-Quran memberi isyarat banyak fenomena alam yang menjadi tantangan sains untuk mengungkapkannya. Tetapi manusia punya keterbatasan ilmu. Penafsiran dengan sains yang terus berkembang bukanlah memutlakkan pemahaman tunggal atas makna ayat-ayat Al-Quran yang terkait dengan fenomena alam. Menggali ’izzah Al-Quran (mukjizat Al-Quran) bukan pula untuk menghasilkan sains baru. Sains adalah temuan yang harus bisa dibuktikan oleh siapa pun.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Al-Quran dengan isyaratnya mendorong eksplorasi antariksa dengan sains tentang perilaku orbit benda langit dan sifat fisis lainnya untuk pengembangan wahana antariksa.
“Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. QS Ar-Rahman:33).
Menembus penjuru langit dan bumi harus dengan kekuatan. Kekuatan itu adalah sains dan teknologi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh dalam penguasaan sains dan teknologi. Langit pun bisa dikuasai. Pesawat terbang, roket, dan satelit mutlak diperlukan untuk menguasaai langit yang pada gilirannya akan menguasai penjuru bumi. Teknologi antariksa kini digunakan untuk memudahkan komunikasi navigasi segenap penjuru bumi, mengamati perilaku alam, dan mengeksplorasi kandungan sumber dayanya.
Bangsa kita pun sedang berupaya membangun kekuatan seperti itu, walau dengan segala keterbatasan namun dengan motivasi tinggi. Sejak peluncuran Satelit Palapa 1976, kita telah memasukki era satelit dan kini tak mungkin lepas dari ketergantungan pada teknologi satelit. Bukan hanya untuk telekomunikasi, tetapi juga untuk penginderaan jauh dan navigasi. Salah satu keunggulan suatu bangsa diukur juga dari kemandiriannya dalam teknologi antariksa. Dalam hal penerapan teknologi terbaru, boleh jadi sektor swasta telah mengambil peran sangat besar. Tetapi dalam hal kemandirian, peran pemerintah menjadi dominan. Alhamdulillah, LAPAN sebagai lembaga pemerintah untuk litbang keantariksaan telah merintis pembuatan satelit yang kini telah berada di orbit pada ketinggian 630 km, Satelit LAPAN-TUBsat. Kini sedang mempersiapkan satelit kembar Twinsat (LAPAN-A2 dan LAPAN-Orari) yang diharapkan bisa diluncurkan tidak lama lagi. Kemandirian pembuatan roket peluncur satelit kini juga sedang diupayakan. Upaya-upaya tersebut dengan dukungan penguasaan teknologi penginderaan jauh dan sains kedirgantaraan, berorientasi pada peningkatan kemandirian dan kesejahteraan bangsa, selain juga untuk merealisasikan tantangan Al-Quran untuk ”menembus penjuru langit dan bumi”.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Dalam Islam, sains bukan saja untuk kepentingan intelektual menjawab keingintahuan manusia dan menjadi dasar pengembangan teknologi yang memudahkan aktivitas keseharian. Sains juga bisa kita gunakan membantu menyempurnakan kualitas ibadah, tanpa mencampuri keyakinan dalil syar’i yang diyakini masing-masing.
Matahari banyak mengajarkan kita banyak hal.
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (QS Asy-Syams:1)”
Matahari di kaki langit mengajarkan relativitas manusia. Matahari di kaki langit yang tampak besar hanyalah ukuran semu karena pembandingnya (bukit, gedung, atau pohon) tampak mengecil di kejauhan. Sedangkan matahari saat tengah hari tampak kecil karena dibandingkan dengan langit yang luas. Sains mengungkapkan makna itu untuk mamahami hikmah yang ditegaskan pada ayat-ayat berikutnya,
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Ukuran relatif manusiawi sering menyebabkan kekotoran jiwa kita dengan keangkuhan dan sikap keunggulan, disamping sikap inferior yang cenderung mengingkari nikmat Allah.  Matahari di kaki langit mengajarkan hikmah untuk berfikir jernih dalam menilai sesuatu. Matahari juga memberi pelajaran penting untuk kita ambil hikmahnya. Spektrum cahayanya  yang sebenarnya beraneka menyatu seolah tanpa warna. Keberagamannya hanya ditampakan untuk menunjukkan keindahan warna pelangi dan beragam warna di alam ini. Matahari mengajarkan dalam hidup pun tak lepas dari keberagaman. Keberagaman tak perlu dileburkan, karena itu memberikan keindahan dengan beragam warna kehidupan. Tetapi bila diperlukan keberagaman dapat pula dipersatukan menjadi tanpa warna demi kesatuan yang menentramkan.
Kita sering menghadapi perbedaan yang kadang meresahkan. Ambil contoh, dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, kita dihadapkan pada keberagaman interpretasi dalil fikih yang berdampak pada perbedaan penentuan harinya. Sains dapat menjadi solusi menjembatani perbedaan pendapat seperti itu dalam implementasi ibadah yang berakar pada interpretasi dalil yang bersifat ijtihadiyah, tanpa mencampuri keyakinan dalil syari’i. Sehingga dengan sains kita bisa lebih menyempurnakaan ibadah kita dalam mendekatkan diri kepada Allah
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Kaum muslimin yg berbahagia!
Demikianlah, Al-Quran berperan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan sebaliknya ilmu pengetahuan berperan memahami makna-makna tersembunyi pada ayat-ayat-Nya dan membantu menyempurnakan ketaatan kita kepada Allah.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Oleh: Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Nasa Mengeluarkan Kenyataan Matahari Akan Terbit Dari Barat


Nhingz, BLOG--Sains astronomi ada menyebut bahawa kelajuan putaran planet Marikh sedang perlahan sedikit demi sedikit ke arah laluannya ke timur. Para saintis agensi angkasa lepas kebangsaan Amerika Syarikat (NASA) pula mendapati pergerakan planet itu terhenti ke arah laluan tersebut.

NASA kemudian mendapati planet Marikh telah menukar laluannya ke arah yang bertentangan, iaitu ke arah Barat, ini bermakna matahari akan terbit dari arah barat Marikh. Fenomena yang ganjil itu disebut sebagai “retrograde motion”.
Kebanyakan saintis Barat berpendapat bahawa semua planet akan melalui fenomena yang serupa dan ini termasuklah planet Bumi. Apabila ianya berlaku, maka matahari akan terbit dari Barat!
Subhanallah! Kekasih Allah Nabi Muhammad s.a.w. bersabda bahwa salah satu tanda besar yang hari kiamat akan tiba ialah apabila matahari terbit dari Barat.
Pihak NASA telahpun mendapati tanda-tanda matahari akan terbit dari Barat semasa ahli sains astronominya mengkaji pergerakan planet Marikh. Yang mereka tidak dapat pastikan ialah tempoh masa yang bakal diambil sehinggalah semua planet melalui fenomena yang serupa.
Dapatan sains oleh NASA itu semestinya memperkukuhkan lagi iman umat Islam akan tanda-tanda kiamat. Manusia tidak tahu bila ianya akan berlaku walaupun sudah ada banyak tanda-tandanya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

TEORI QURAN VS TEORI BARAT

Kalau di kaji dengan teliti, teori yang dijelaskan Al-Quran ini agak berbeza dari teori-teori barat. Yang pertama, Al-Quran menjelaskan bulan yang menyebabkan bumi bertukar arah. Al-Quran menunjukkan perkaitan yang erat dan rapat antara bumi dan bulan. Tetapi teori barat tidak ‘nampak’ pun peranan bulan dalam proses kejadian ini.
Yang ke-duanya, teori Al-Quran nampak lebih jelas dan mudah difahami, malah boleh dibuktikan melalui ujikaji makmal. Sedangkan teori barat tidak dapat diuji dalam makmal dan tidak menunjukkan keadaan matahari akan naik dari barat! Kalau berlaku perlanggaran yang teramat dahsyat (dengan komet yang besar), maka bumi akan hancur! Perlanggaran ‘kecil’ (seperti yang berlaku di Mexico) tidak akan dapat menukar putaran bumi. Lagi pun sekiranya komet melanggar bumi dari “arah yang salah” ianya mungkin akan menambah kelajuan pusingan yang ada sekarang misalkan dari 24 jam kepada 10 jam sahaja/hari. Sekiranya bumi berputar pada kelajuan ini, maka kelajuan objek yang berada pada permukaan equator (atau khatulistiwa) ialah kira-kira 4,000 km/sejam yang akan memusnahkan segala-galanya yang ada dipermukaan bumi seperti rumah, bangunan, tumbuhan, pohon kayu, dan manusia serta binatang-binatang akan berterbangan.

Lagi pun untuk membolehkan bumi perputar pada arah bertentangan, komet yang melanggar bumi mesti pergerak pada kelajuan lebih dari 2 kali kelajuan putaran bumi iaitu 3,300 km/jam (sekiranya saiz komet sama besar dengan saiz bumi), dan mesti melanggar bumi pada sudut dan lokasi yang tepat. Kalau ianya melanggar pada kutub utara, maka matahari tidak akan ‘terbit dari barat’.
Yang ke-tiga, teori Al-Quran adalah lebih tepat sebab tidak berlaku kerosakkan yang besar kepada makhluk di bumi. Sekiranya berlaku kemusnahan yang besar (misalnya bumi hancur), maka ini bermakna sudah “betul-betul kiamat” dan bukannya lagi “hampir kiamat”. Di dalam hadith di atas menjelaskan selepas matahari naik dari barat maka segala amalan dan taubat tidak diterima lagi, dan dajal akan turun ke bumi (ini menunjukkan manusia masih lagi hidup di bumi, dan berjalan seperti biasa).

Tambahan pula Al-Quran menyatakan (15:76) manusia akan melihat jalan-jalan tetap tegak, nampak seperti biasa tanpa sebarang kerosakan, dan masih boleh dilalui.

Ke-empat, penjelasan Al-Quran lebih menyeluruh dan dari teori barat. Ahli sains telah mendapati bahawa terdapat ‘2’ jenis permukaan bulan iaitu permukaan yang cerah (yang sentiasa mengadap bumi), dan permukaan gelap (yang sentiasa membelakangi bumi). Ke dua-dua permukaan ini mempunyai ciri-ciri yang berbeza yang amat ketara seperti warna, daya graviti, kandungan bahan-bahan, ketumpatan dan kemampatan, keradioaktifan, dan sebagainya. Oleh itu apabila bulan merekah ia akan merubah polar graviti, mengeluarkan tenaga elektromagnetik yang boleh menyebabkan daya graviti dan magnet bumi bertindak balas.

Sumber: My Berita.Com

Asteroid Berukuran setengah Bola Berpotensi Tabrak Bumi

Nhingz, BLOG--Berita mengejutkan muncul dari pengamat luar angkasa yang mengatakan bahwa terdapat sebuah asteroid yang berukuran besar, yakni berukuran setengah dari lapangan sepak bola yang berpotensi menabrak planet Bumi.
Asteroid Berukuran setengah Bola Berpotensi Tabrak Bumi
Dalam beberapa hari kedepan, pemantau luar angkasa di Eropa Timur, Asia, dan Australia akan dapat kesempatan untuk melihat sebuah asteroid berukuran besar yang meluncur di langit. Pengamat memperkirakan bahwa asteroid berukuran besar tersebut akan terlihat pada hari Jumat besok (15/02/2013).

Meski belum pasti akan menabrak planet Bumi, asteroid yang berukuran setengah lapangan sepak bola ini memang berpotensi untuk menabrak bumi, mengungat posisinya yang dinilai cukup dekat dengan Bumi.

Berdasarkan informasi Don Yeomans dari NASA, belum pernah ada obyek sebesar asteroid tersebut yang berada di posisi yang sangat dekat dengan planet Bumi sejak tahun 1990-an. Karena posisinya yang cukup dekat dengan Bumi, asteroid ini berpotensi tertarik oleh gaya gravitasi Bumi.

Asteroid yang berukuran sebesar setengah lapangan bola ini dijuluki sebagai 2012DA14. Asteroid 2012DA14 ini akan bergerak melewati lingkaran satelit komunikasi dan cuaca geostationer Bumi dengan jarak dengan permukaan Bumi mencapai sekitar 17.200 mil.

Pihak NASA mengatakan bahwa asteroid 2012DA14 tak akan menimbulkan bahaya besar atau kiamat, karena asteroid 2012DA14 yang berukuran setengah lapangan bola ini tak memiliki cukup kekuatan untuk menyebabkan kerusakan secara global.

Seperti yang dilansir dari CHIP (13/02/2013), NASA mengungkapkan bahwa asteroid sebesar 2012DA14 ini pernag menabrak Bumi pada tahun 1908 dan mehyebabkan hutan seluas 820 mil persegi di Tunguska, Rusia, rata dengan tanah.

Tahun 1908 tampaknya cukup beruntung, karena jatuh di tengah hutan, lalu bagaimana asteroid 2012DA14 ini jatuh ditengah pemukiman penduduk atau kota? Jelas akan menghancurkan seluruh kota beserta penduduknya.
Semoga hal ini tidak terjadi, manusia hanya bisa berteori dan memperkirakan, Tuhan yang menentukan semuanya. 

Sumber: Sidomi.com

Benarkah Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang...???

Nhingz, BLOG--Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir.

Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia.

Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005).

Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara.

Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Vulkanisme

   Nhingz, BLOG--Postingan kali ini berkaitan dengan vulkanisme, berikut ini:
   A. PENGERTIAN VULKANISME
Istilah vulkanisme berasal dari kata latin vulkanismusnama dari sebuah pulau yang legendaris di Yunani. Tidak ada yang lebih menakjubkan diatas muka bumi ini dibandingkan dengan gejala vulkanisme dan produknya, yang pemunculannya kerap kali menimbulkan kesan-kesan religiuos. Letusannya yang dahsyat dengan semburan bara dan debu yang menjulang tinggi, atau keluar dan mengalirnya bahan pijar dari lubang di permukaan, kemudian bentuk kerucutnya yang sangat mempesona, tidak mengherankan apabila di masa lampau dan mungkin juga sekarang masih ada sekelompok masyarakat yang memuja atau mengkeramatkannya seperti halnya di pegunungan Tengger (Gn.berapi Bromo) di Jawa Timur. 
Vulkanisme dapat didefinisikan sebagai tempat atau lubang di atas muka Bumi di mana dari padanya dikeluarkan bahan atau bebatuan yang pijar atau gas yang berasal dari bagian dalam bumi ke permukaan, yang kemudian produknya akan disusun dan membentuk sebuah kerucut atau gunung.
Vulkanisme atau Bentuk Bentuk Instrusi Magma – Vulkanisme merupakan peristiwa atau proses yang berhubungan dengan naiknya magma (larva pijar) dari dalam perut bumi. Magma adalah campuran material batu-batuan yang berbentuk liat, cair dan sangat panas. Aktivitas magma dipengaruhi oleh tingginya suhu dan gas yang banyak di dalam bumi. Bentuk magma dapat berupa padat, gas dan cair. Dalam vulkanisme terdapat dua proses atau gejala sebagai berikut:

Teori Terbentuknya Alam semesta

      Nhingz, BLOG-- Pemaparan kali ini adalah tentang teori terbentuknya alam semesta, Berikut ini:
    A.     Teori-teori Terbentuknya Alam Semesta
Alam semesta sekarang ini awalnya berasal dari gas yang berserakan secara teratur diangkasa kemudian menjadi kabut (menjadi kumpulan kosmos-kosmos). Dalam pengertian alam semesta mencakup tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Mikro kosmos yaitu benda-benda yang berukuran kecil seperti atom, sel, elektron dan benda—benda kecil lainnya. Adapun makro kosmos yaitu benda-benda yang berukuran besar, seperti bintang, planet, dan matahari.
1.     Teori dalam Surah An-Naaziat
Dalam surat An Naaziat (79) ayat 27 – 33 menerangkan proses penciptaan bumi dan alam semesta. Dalam ayat tersebut tertulis bumi dan alam semesta tercipta dalam enam masa. Masih dalam perdebatan mengenai enam masa yang dimaksud. Entah itu enam tahun, enam hari, enam periode, ataupun enam tahapan.

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا. رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا. وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا  وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا. وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا. أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا. وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا. مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”. An-nazi’at ayat 27-33.

Tenaga Yang Mempengaruhi Bumi

Nhingz, BLOG--Bentuk muka bumi selalu mengalami perubahan. Perubahan bentuk muka bumi disebabkan oleh tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari perut bumi seperti letusan gunung, gempa bumi dan lain-lain. Sedangkan tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi, seperti gerakan angin, gerakan air dan lain-lain. Perubahan bentuk permukaan bumi sebenarnya merupakan hal yang bersifat alami. Tenaga eksogen yang dapat mempengaruhi perubahan bentuk permukaan bumi antara lain Pelapukan, Sedimentasi dan Erosi.

      A.     Tenaga Endogen
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit atau permukaan bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata. Suatu daerah permukaan bumi yang dahulu rata (datar) dengan adanya tenaga endogen berubah menjadi gunung, bukit atau pegunungan. Pada bagian lain permukaan bumi turun menjadikan adanya lembah atau jurang.
Secara umum tenaga endogen dibagi dalam tiga jenis yaitu tektonisme, vulkanisme, dan seisme atau gempa.
Tenaga Endogen adalah tenaga yang dapat mengubah bentuk muka bumi yang berasal dari dalam bumi. Tenaga Endogen dibagi menjadi 3, yaitu Seisme (gempa bumi), Tektonisme, dan Vulkanisme.

Arsitektonik Kerak Bumi


Nhingz, BLOG--Postingan kali ini tentang, Arsitektonika Kerak Bumi, Berikut ini:
A.     Pengertian Litosfer atau Kerak Bumi
Kata lithosfer berasal dari bahasa yunani yaitu “lithos” artinya batuan, dan “sphera” artinya bola. Lapisan lithosfer yaitu lapisan kerak bumi yang paling luar dan terdiri atas batuan dengan ketebalan rata-rata 1200 km. Lapisan ini terdiri atas zat padat yang dinamakan batuan, yang secara umum terbagi menjadi dua, yaitu :
1)      Lapisan atas yang disebut lapisan katamorphisma, yang terdiri atas lapisn batuan yang mengalami pelapukan.
2)      Lapisan bawah yang disebut lapisan metamorphisma, yang terdiri atas batuan yang telah mengalami pengerasan.
Lithosfer atau kerak bumi merupakan lapisan paling luar yang terletak di atas lapisan dengan ketebalan 1200 km berat jenis rata-rata 2,8 gram/cm3. Unsur-unsur kimia utama pembentuk lithosfer adalah: Oksigen (O) (46,6%), Silikon (Si) (27,7%), Aluminium (Al) (8,1%), Besi (Fe) (5,0%), Kalsium (Ca) (3,6%), Natrium (Na) (2,8%), Kalium (K) (2,6%), Magnesium (Mg) (2,1%). Temperatur lithosfer meningkat seiring kedalamannya. Pada batas terbawahnya temperatur kerak menyentuh angka 200-400 oC. Kerak dan bagian mantel yang relatif padat membentuk lapisan litosfer. Karena konveksi pada mantel bagian atas dan astenosfer, litosfer dipecah menjadi lempeng tektonik yang bergerak. Temperatur meningkat 30 oC setiap km, namun gradien panas Bumi akan semakin rendah pada lapisan kerak yang lebih dalam.

Batuan


       A.       Pengertian Batuan
Batuan adalah bahan padat bentukan alam yang umumnya tersusun oleh kumpulan atau kombinasi dari satu macam mineral atau lebih. Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya.