Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Isra’ Mi’raj: Inspirasi Mengintegrasikan Sains dalam Aqidah dan Ibadah

Nhingz, BLOG--Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.
Perjalanan Isra' Mi'raj
Mari kita mendudukkan masalah isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.
Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang isra’: 
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18: 
“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW salat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau.”
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar,
“Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi,
“Aku telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah salat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa salat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu’min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).
Kemudian Nabi Saw. Bersabda:
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.  Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung.
Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
“Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya     berbuah    seratus    butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….”
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
“Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi  ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu
 
Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu:
(1) Nabi Adam,
(2) Nabi Isa dan Nabi Yahya,
(3) Nabi Yusuf,
(4) Nabi Idris,
(5) Nabi Harun,
(6) Nabi Musa, dan
(7) Nabi Ibrahim.
Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua  (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak dibatas oleh ruang.
Rasulullah bersama jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks istra’ mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.
Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah salat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ektra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikhotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting isra’ mi’raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah salat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan salat sebagai ibadah utama dalam Islam. Salat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Salat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah  (shalat) adalah  lebih  besar  (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenonema cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua ummat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)
Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.

Oleh: Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Al-Qur’an dan Pengembangan Ilmu Pengetahuaan

Nhingz, BLOG--Bila cuaca cerah, malam ini kita akan melihat sebuah bintang sangat terang di ufuk Barat. Itulah bintang paling terang malam ini, Bintang Kejora yang sesungguhnya bukan bintang melainkan planet Venus. Walau sangat terang, kecerlangannya tidaklah abadi.  Menjelang isya cahayanya ditenggelamkan oleh cahaya bulan pasca purnama. Tidak lama ia di langit yang tinggi, hanya dalam beberapa jam bintang cemerlang itu benar-benar terbenam. Muncullah bulan pasca purnama dengan dengan wajah masih hampir bulat terang menguasai langit malam ini.  Tetapi rembulan pun tak kan abadi. Saat pagi Matahari muncul jauh lebih terang, cahayanya memucatkan rembulan di ufuk barat menjelang terbenam. Matahari pun tak kekal di langit, ada saatnya akan terbenam pula.

Bayangkan suasana seperti itu bukan di tengah kota, tetapi di tengah padang pasir. Bayangkan kita sedang bersama Nabiyullah Ibrahim ‘alaihi salam yang sedang merenungi makna tauhid, keesaan Allah, dengan akal langsung dari alam. Allah menceritakan kisah menarik itu di dalam QS Al-An’am: 76-79 
“….Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Banyak hikmah dapat kita petik dari kisah Nabi Ibrahim tersebut untuk merenungi ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat Allah di alam, untuk menemukan hakikat Allah dan mengambil pelajaran darinya. Ya, membaca ayat-ayat-Nya. Hal yang sama dalam format berbeda diajarkan juga oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW pada malam turunnya Al-Qur-an, Nuzulul Qur-an:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-Alaq:1 – 5).
”Bacalah” bukan sekadar bermakna membaca ayat-ayat Allah di kitab, tetapi membaca juga ayat-ayat Allah di alam semesta, ayat-ayat kauniyah. Membaca alam bermakna merenungi ciptaan Allah. Asal usulnya, prosesnya, hukum-hukum yang berlaku padanya, dan kesudahannya. Itulah menjadikan intelektualitas manusia berkembang. Kecendekiawanannya lebih bermakna.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (para cendekia), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Bila dijumpai sesuatu yang mengagumkan, ia mengembalikannya kepada Allah yang menciptakan): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau”. (Namun dengan menyadari keterbatan ilmu yang berpotensi salah dalam penjelajahan inetelektualnya sehingga senantiasa ia mohon ampunan Allah), “maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.
Pada ayat tersebut Allah mengajarkan kita semua untuk menjadi “ulil albab”, orang yang senantiasa menggunakan akalnya. Menjadi cendekiawan yang senantiasa membaca alam. Empat cirinya: berdzikir, berfikir, bertauhid, dan beristighfar. Senantiasa berdzikir (ingat) kepada Allah dalam segala situasi. Tak jemu berfikir tentang segala fenomena alam. Bertauhid mengesakan Allah yang menciptakan alam ini. Tak lupa beristighfar atas kemungkinan lalai dan salah dalam pemikirannya.


Membaca alam secara mendalam kemudian menganalisisnya, merumuskannya, dan mengujinya akan menghasilkan sains, ilmu pengetahuan. Al-Quran mendorong umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Ayat pembuka saat turunnya Al-Quran ”iqra, bacalah”, menjadi motivasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mestinya juga menjadi pendorong untuk melahirkan inovasi.
Ada tiga peran utama sains yang juga diajarkan Al-Qur-an. Pertama, peran sains menjawab keingintahuan manusia. Keingintahuan utama adalah asal-usul sesuatu dan mekanisme kejadian di alam. Beberapa hal diisyaratkan di dalam Al-Quran untuk renungan bagi manusia untuk memikirkannya. Kedua, peran sains melandasi pengembangan teknologi yang memudahkan manusia. Sepanjang sejarah manusia, teknologi dikembangkan untuk memudahkan aktivitas manusia. Perilaku alam yang dikaji sains banyak menginspirasi pengembangan teknologi. Beberapa ayat Al-Quran pun memberi tantangan untuk menguasai teknologi untuk mengungkap rahasia alam. Ketiga, menurut ajaran Islam sains juga berperan membantu mendekatkan diri kepada Allah.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Pertanyaan paling mendasar umat manusia adalah tentang asal-usul alam semesta dan segala isinya. Keingintahuan yang pokok inilah yang mendorong manusia mengkaji rahasia alam. Al-Quran merangkum asal-usul alam semesta itu dengan isyarat tentang ”enam hari penciptaan”. Sains yang dikembangkan dalam mengkaji fenomena alam kemudian kita balikkan untuk mencoba memahami isyarat ungkapan-ungkapan dalam Al-Quran
Alam diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. Fushshilat:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an. Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, berdasarkan kronologi saintifik tentang evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. Fushshilat:9-12 dan Q.S. An-Nazia’at:27-32) kita coba fahami enam masa itu sebagai enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia.
Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. Al-Anbiya:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 13,7 milyar tahun lalu.
Dan Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit (Q.S. Adz-Dzariyat:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi.
Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. Fushshilat:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut.
Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai
“Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (Q.S. An-Nazi’at:28)
Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. An-Nazi’at:29,
“Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.”
Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” pada Q.S. An-Nazi’at:30,
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”.
Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.
Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Anbiya:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.
Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.
Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. Fushshilat:10). Di dalam Q.S. An-Nazi’at:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan,
“Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang‑binatang ternakmu”.
Al-Quran memberi isyarat banyak fenomena alam yang menjadi tantangan sains untuk mengungkapkannya. Tetapi manusia punya keterbatasan ilmu. Penafsiran dengan sains yang terus berkembang bukanlah memutlakkan pemahaman tunggal atas makna ayat-ayat Al-Quran yang terkait dengan fenomena alam. Menggali ’izzah Al-Quran (mukjizat Al-Quran) bukan pula untuk menghasilkan sains baru. Sains adalah temuan yang harus bisa dibuktikan oleh siapa pun.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Al-Quran dengan isyaratnya mendorong eksplorasi antariksa dengan sains tentang perilaku orbit benda langit dan sifat fisis lainnya untuk pengembangan wahana antariksa.
“Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. QS Ar-Rahman:33).
Menembus penjuru langit dan bumi harus dengan kekuatan. Kekuatan itu adalah sains dan teknologi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh dalam penguasaan sains dan teknologi. Langit pun bisa dikuasai. Pesawat terbang, roket, dan satelit mutlak diperlukan untuk menguasaai langit yang pada gilirannya akan menguasai penjuru bumi. Teknologi antariksa kini digunakan untuk memudahkan komunikasi navigasi segenap penjuru bumi, mengamati perilaku alam, dan mengeksplorasi kandungan sumber dayanya.
Bangsa kita pun sedang berupaya membangun kekuatan seperti itu, walau dengan segala keterbatasan namun dengan motivasi tinggi. Sejak peluncuran Satelit Palapa 1976, kita telah memasukki era satelit dan kini tak mungkin lepas dari ketergantungan pada teknologi satelit. Bukan hanya untuk telekomunikasi, tetapi juga untuk penginderaan jauh dan navigasi. Salah satu keunggulan suatu bangsa diukur juga dari kemandiriannya dalam teknologi antariksa. Dalam hal penerapan teknologi terbaru, boleh jadi sektor swasta telah mengambil peran sangat besar. Tetapi dalam hal kemandirian, peran pemerintah menjadi dominan. Alhamdulillah, LAPAN sebagai lembaga pemerintah untuk litbang keantariksaan telah merintis pembuatan satelit yang kini telah berada di orbit pada ketinggian 630 km, Satelit LAPAN-TUBsat. Kini sedang mempersiapkan satelit kembar Twinsat (LAPAN-A2 dan LAPAN-Orari) yang diharapkan bisa diluncurkan tidak lama lagi. Kemandirian pembuatan roket peluncur satelit kini juga sedang diupayakan. Upaya-upaya tersebut dengan dukungan penguasaan teknologi penginderaan jauh dan sains kedirgantaraan, berorientasi pada peningkatan kemandirian dan kesejahteraan bangsa, selain juga untuk merealisasikan tantangan Al-Quran untuk ”menembus penjuru langit dan bumi”.
Kaum muslimin yg berbahagia!
Dalam Islam, sains bukan saja untuk kepentingan intelektual menjawab keingintahuan manusia dan menjadi dasar pengembangan teknologi yang memudahkan aktivitas keseharian. Sains juga bisa kita gunakan membantu menyempurnakan kualitas ibadah, tanpa mencampuri keyakinan dalil syar’i yang diyakini masing-masing.
Matahari banyak mengajarkan kita banyak hal.
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (QS Asy-Syams:1)”
Matahari di kaki langit mengajarkan relativitas manusia. Matahari di kaki langit yang tampak besar hanyalah ukuran semu karena pembandingnya (bukit, gedung, atau pohon) tampak mengecil di kejauhan. Sedangkan matahari saat tengah hari tampak kecil karena dibandingkan dengan langit yang luas. Sains mengungkapkan makna itu untuk mamahami hikmah yang ditegaskan pada ayat-ayat berikutnya,
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Ukuran relatif manusiawi sering menyebabkan kekotoran jiwa kita dengan keangkuhan dan sikap keunggulan, disamping sikap inferior yang cenderung mengingkari nikmat Allah.  Matahari di kaki langit mengajarkan hikmah untuk berfikir jernih dalam menilai sesuatu. Matahari juga memberi pelajaran penting untuk kita ambil hikmahnya. Spektrum cahayanya  yang sebenarnya beraneka menyatu seolah tanpa warna. Keberagamannya hanya ditampakan untuk menunjukkan keindahan warna pelangi dan beragam warna di alam ini. Matahari mengajarkan dalam hidup pun tak lepas dari keberagaman. Keberagaman tak perlu dileburkan, karena itu memberikan keindahan dengan beragam warna kehidupan. Tetapi bila diperlukan keberagaman dapat pula dipersatukan menjadi tanpa warna demi kesatuan yang menentramkan.
Kita sering menghadapi perbedaan yang kadang meresahkan. Ambil contoh, dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, kita dihadapkan pada keberagaman interpretasi dalil fikih yang berdampak pada perbedaan penentuan harinya. Sains dapat menjadi solusi menjembatani perbedaan pendapat seperti itu dalam implementasi ibadah yang berakar pada interpretasi dalil yang bersifat ijtihadiyah, tanpa mencampuri keyakinan dalil syari’i. Sehingga dengan sains kita bisa lebih menyempurnakaan ibadah kita dalam mendekatkan diri kepada Allah
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Kaum muslimin yg berbahagia!
Demikianlah, Al-Quran berperan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan sebaliknya ilmu pengetahuan berperan memahami makna-makna tersembunyi pada ayat-ayat-Nya dan membantu menyempurnakan ketaatan kita kepada Allah.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Oleh: Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sebuah Sya’ir Tentang Takdir, Alam dan Hujan

Nhingz, BLOG--Tuk sejenak ibukota seperti kembali kemasa lalu ya, begitu sejuk, bebas asap kendaraan. Suara rintik hujan yang membasahi jalanan, pohon dan taman menebarkan harum rerumputan…
Sebuah Sya’ir Tentang Takdir, Alam dan Hujan
Malam semakin menambah gelap langit yang kelam, tapi ku tahu sudah banyak racun yang sudah terhempas dari awan. Langit seakan melepaskan amarah yang telah dipendam setengah tahun, setelah selama ini kita beri dengan polusi dan racun. Dengan seizin Allah, Cakrawala lambat laun membersihkan dirinya sendiri, menampakkan kekuatan yg selama ini ditahan. Manusia hanya dapat terperangah menyadari kelalaiannya, pasrah akan apa yang dianggapnya sebagai takdir Tuhan. Takdir kembali dipersalahkan akan apa yang selama ini kita pilih dan lakukan, padahal tak lain dan tak bukan hanyalah pelarian. Takdir kembali menjadi kambing hitam akan kesalahan manusia yang selama ini dipelihara dan lakukan. 

Cuaca dan hujan tiba-tiba menjadi tertuduh yang paling bersalah dan patut untuk dimeja hijaukan. Hujan adalah karunia Allah yang seharusnya kita syukuri dalam hati yang paling dalam, bukan dipersalahkan! Tak elok rasanya jikalau rahmat Allah yang begitu besar ini kita lupakan dan campakkan, dituduh penyebab banjir yang tak berkesudahan.

Ya Allah ampunkan kami yang begitu sombong tak mau mensyukuri rahmatmu akan alam, akan angin dan hujan. Ya Tuhan kami yang maha pemurah, maafkan kami dan tolong selamatkan hamba-hambamu yang masih bersyukur dan beriman. Tak ada daya upaya yang dapat kami lakukan selain meminta dan berserah diri pada engkau satu-satunya Tuhan. Wahai Dzat yang menguasai langit, gunung dan lautan, berikan kami kembali kesempatan tuk perbaiki kesalahan-kesalahan. Kami sadar telah menganiaya diri kami sendiri, mohon terima tobat dan beri ampunan. Ya Allah, berikan ketabahan dan kekuatan kepada saudara-saudara kami yang rumahnya sedang kebanjiran. Ya Allah, berikan kesabaran dan bantuan pada saudara-saudara kami yang terjebak banjir di jalanan.

Semoga Engkau masih sudi mempertemukan kami dengan orang tua, saudara dan sanak taulan. Semoga dengan ini kami kembali menyadari akan semua kesalahan dan menjadi makhluk-Mu yang peduli akan alam. Kabulkan ya Allah,  maafkan kami, dan tetap jadikanlah kami hambamu yang selalu patuh dan beriman
Aamiin kan juga ya!!!
:)
Sumber: Alfatihcenter.com